Kamis, 02 Desember 2010

Beranda * Beranda __DAFTAR BERITA__ * ► 2011 (363) o ► 23 Januari - 30 Januari (55) + 19 Jenis Lokomotif Kereta

Walikota Samarinda H Syaharie Jaang bersama wakil walikota Samarinda H Nusyirwan Ismail didampingi Sekretaris Daerah HM Fadly Illa dan jajaran pimpinan instansi teknis melakukan peninjauan lapangan di sepanjang Tepian Mahakam sekaligus memimpin rapat di gazebo Tepian Mahakam, Rabu (1/12).
Walikota Samarinda saat memimpin Rapat di Gazebo Tepian Mahakam
Walikota Samarinda saat memimpin Rapat di Gazebo Tepian Mahakam
Hujan yang mengguyur Kota Samarinda bukan halangan bagi Walikota melakukan peninjauan lapangan ke Tepian Mahakam yang dimulai dari segmen Pasar Pagi, Teluk Lerong hingga Karang Asam menjadi sasaran untuk pembenahan, yang diakhiri dengan meninjau jembatan Mahakam Hulu.
“Memang kita akan menyerahkan pengelolaannya kepada investor secara murni. Sesuai rencana, Januari akan ditawarkan kepada investor. Januari baru ditawarkan, tentu tidak otomatis bulan Februari atau Maret hingga April sudah terlihat hasil, makanya peninjauan hari ini untuk langkah membenahi yang sudah ada dan bagus juga ketika dilihat investor. Saya ingatkan, memang tidak seperti lampu aladin, tapi warga juga tidak mau tahu dan jangan sampai dibilang warga hanya wacana,” ujar Syaharie Jaang yang memilih salah satu gazebo Tepian Mahakam di depan Islamic Centre untuk melakukan rapat terkait penataan tepian.
Beberapa poin penting yang disampaikan Syaharie Jaang kepada jajarannya agar secepatnya dirumuskan dalam tempo 1 bulan untuk menggodoknya.
”Hal penting pertama masalah penataan dan penertiban PKL, supaya segera dirapatkan yang dipimpin Wawali, mulai PKL Mesra Indah (Penjual kaset CD), di depan masjid raya, pasar Pagi, PKL Buah, PKL mobil pick up, PKL BBM, telur penyu hingga jagung,” ucap walikota.
Kedua, lanjutnya masalah parkir yang masih ada hubungan dengan penataan dan penertiban PKL. Seperti mengurangi kemacetan di depan masjid raya dan pasar Pagi. Setelah PKL ditertibkan, space-nya bisa digunakan untuk parkir.
Begitu pula tempat bermain anak, sebut Jaang merupakan kebutuhan semua warga dari berbagai tingkat sosial. “Ada teman saya yang bekerja di bank, juga membawa anaknya di sini. Katanya di sini tempatnya terbuka. Tinggal nanti kita benahi pengelolaannya dan kebersihan, termasuk soal parkirnya,” perintah Jaang.
Jaang meminta agar Tepian Mahakam tetap dalam kondisi terawat, dijaga kebersihannya dan rumputnya tetap nyaman dilihat. (vb/*)


sumber http://www.vivaborneo.com/walikota-samarinda-pimpin-rapat-di-gazebo.htm

Kamis, 14 Oktober 2010

Sejarah Kotaku : Samarinda

Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan " PERJANJIAN BONGAJA" pada tanggal 18 Nopember 1667.

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan "SAMARINDA".

Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H" penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980

http://www.samarindakota.go.id/index.php?page=33